Berita Hawzah– Hujjatul Islam Qashqawi menjelaskan berbagai dimensi kepribadian dan kedudukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam sebagai figur teladan yang luar biasa dan tak tertandingi.
Ia menyatakan: Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam adalah pribadi yang dikenal dan dihormati oleh seluruh manusia merdeka di dunia, baik Muslim maupun non-Muslim. Beliau adalah orang pertama yang senantiasa berada di sisi Rasulullah Saw, dididik langsung oleh beliau, dan menimba ilmu di madrasah kenabian. Rasulullah Saw senantiasa memuliakan Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dan bahkan memperkenalkannya sebagai “jiwa” beliau sendiri.
Ia menambahkan, dengan mengacu pada kesepakatan para ulama: Keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam begitu terang dan jelas sehingga para ulama Ahlusunah maupun Syiah sepakat atas keagungan beliau. Dalam kezuhudan, keberanian, kepemimpinan sosial, keteguhan prinsip, dan seluruh kesempurnaan moral, Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam merupakan contoh paling unggul dalam sejarah umat manusia.
Hujjatul Islam Qashqawi menekankan komprehensivitas kepribadian Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam seraya berkata: Selain pengorbanan luar biasa beliau di jalan agama Allah Swt, Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam memiliki seluruh kesempurnaan insani dan karena itu dapat menjadi teladan bagi semua zaman. Terutama masa muda beliau—yang dipenuhi dengan pengorbanan, keteguhan, kesabaran, dan upaya menyelesaikan persoalan masyarakat—merupakan contoh ideal bagi generasi muda di setiap era.
Ia juga menyinggung semangat menuntut ilmu Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dan melanjutkan: Generasi muda dapat meneladani kegigihan Imam Ali 'alaihissalam dalam mencari dan menimbah ilmu dari Rasulullah Saw. Beliau selalu aktif bertanya dan mendalami persoalan-persoalan keilmuan, sementara Rasulullah Saw dengan doa-doanya memohonkan kekuatan hafalan dan pemahaman sempurna bagi Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam.
Di akhir, ia menegaskan: Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam, dalam seluruh fase kehidupan penuh berkahnya—terutama pada masa penuh gejolak pasca wafatnya Rasulullah Saw—selalu berada di garis terdepan dalam menjawab kebutuhan umat, baik kebutuhan intelektual maupun sosial dan ekonomi. Dengan demikian, beliau adalah teladan nyata dari kepemimpinan yang berorientasi pada amal dan pengabdian.
Your Comment